Di Istana Topkapi, Pedang Rasulullah Kini Berada
Senin, 05 Juli 2010, 18:11 WIB
Smaller Reset Larger
Di Istana Topkapi, Pedang Rasulullah Kini Berada
Istana Topkapi
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Anda mungkin pernah mendengar Istana Topkapi yang berada di Istanbul, Turki? Istana peninggalan kejayaan Kesultanan Turki Utsmani itu memang terkenal karena keindahannya. Indah arsitekturnya, juga indah sejarahnya.
Istana yang juga dikenal dengan sebutan masjid biru itu merupakan kediaman resmi dan pusat pemerintahan dari Sultan Turki Utsmani selama sekitar 400 tahun atau sejak 1465 sampai 1858. Istana ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari empat halaman utama dan banyak bangunan yang lebih kecil. Pada puncak keberadaannya sebagai kediaman kerajaan, istana itu merupakan rumah bagi sekita 4.000 penghuninya. Terletak persis di tepi pantai di titik pertemuan antara Selat Bosporus, Tanjung Tanduk Emas (Golden Horn) dengan Laut Marmara, Topkapi dalam bahasa Turki berarti Gerbang Meriam.
Topkapi merupakan karya terbesar Kesultanan Turki Utsmani. Dibangun dengan arsitektur khas Turki yang mempunyai taman-taman indah yang menghubungkan antara satu bangunan dan bangunan lainnya. Taman-taman yang hijau ini dipenuhi pohon-pohon besar yang rindang. Didirikan di atas lahan seluas 700 ribu meter persegi, Istana Topkapi mulai dibangun pada 1453. Diawali dengan keinginan Sultan Mehmed II untuk membangun sebuah istana sebagai pusat Kesultanan Turki Utsmani.
Sultan Mehmed II menguasai Istanbul setelah menaklukannya dari tangan Kekaisaran Roma pada 1453. Dari sanalah Istana Topkapi mulai dibangun dan terus mengalami berbagai perubahan sampai 1850. Secara keseluruhan, Istana Topkapi memiliki ratusan kamar, namun hanya beberapa saja yang kini bisa dilihat masyarakat. Berbagai jenis keramik, woodwork dan gaya arsitektur ditampilkan di Istana Topkapi.
Sedikitnya, ada lima orang yang terlibat merancang bangunan Istana Topkapi ini. Mereka adalah Sultan Mehmed II, Aluddin, Davud Aga, Mimar Sinan, dan Sarkis Balyan. Dengan perpaduan dari kelima arsitek ini, tak heran bila bangunan Istana Topkapi dianggap sebagai sebuah bangunan terbaik hingga kini. Ini semua menunjukkan perkembangan seni aristektur di Turki sudah demikian maju. Kompleks Istana Topkapi ini tercatat pernah mengalami renovasi sebanyak dua kali, yakni setelah gempa bumi 1509 dan kebakaran tahun 1665. Sebanyak 24 Sultan Turki Utsmani pernah mendiami istana itu.
Saat ini, Istana Topkapi telah beralih fungsi. Bangunan megah itu telah diubah menjadi sebuah museum. Banyak benda peninggalan kejayaan Kesultanan Turki Utsmani yang tersimpan di sana. Tapi mungkin yang paling menarik bagi umat Islam adalah benda-benda peninggalan milik Nabi Muhammad SAW. Tersimpan di ruang Relikui Suci, di sanalah dapat dijumpai tempat kohl (celak) milik Rasulullah, jejak kaki Rasulullah, pedang, jubah, hingga rambut Rasulullah. Dan di sana pula sejumlah benda-benda
Senin, 27 September 2010
Minggu, 19 September 2010
kolom lepas
12 Rumah sakit disiapkan bagi uji coba jamu
Jumat, 03/09/2010 19:44:21 WIBOleh: Rahmayulis Saleh JAKARTA: Pemerintah telah menyiapkan sedikitnya 12 rumah sakit untuk uji coba penggunaan jamu sebagai tindakan kuratif dan menyediakan sejumlah Puskesmas sebagai tempat uji coba upaya preventif.
"Kementerian Kesehatan cukup serius memperhatikan masalah jamu masuk rumah sakit sebagai obat pendamping obat-obatan berbaham kimia," kata Agus Purwodianto, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes), Kemenkes, di Jakarta, hari ini.
Dia menuturkan keseriusan itu bisa terlihat dari komitmen Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih yang ditujukkan dalam bentuk alokasi dana pada 2011, yang diusulkan kepada DPR untuk saintifikasi jamu sebesar Rp100 miliar. Sebelumnya dana yang disediakan hanya Rp5 miliar.
"Komitmen Menkes sangat serius. Kami optimistis jamu bisa berkembang dan berdampingan dengan obat kimia, yang selama ini lebih diakui oleh para dokter," kata Agus.
Menurut dia, Indonesia mempunyai tanaman obat yang sangat berlimpah, dan secara turun temurun telah diterima oleh budaya bangsa Indonesia. "Namun, sayangnya tidak pernah ada pencatatan pemanfaatannya," ujarnya.
Untuk itu, lanjutnya, dalam pengembangan jamu dilakukan Balitbangkes melalui uji klinik secara langsung oleh para dokter, dengan cara penelitian secara khasiat kepada sejumlah pasien. "Tentu kita menggunakan standar penelitian dan memakai informed concern," ungkapnya.
Berdasarkan Kepmenkes 1109/2007 tentang Pengembangan Obat Tradisional, lanjutnya, Balitbangkes menginventarisasi apa saja jenis penyakit yang dapat diobati dengan jamu, sehingga akan terdata dalan database untuk menyusun formularium.
Agus mengatakan dari 1.100 tanaman obat, baru ada lima jenis yang sudah menjadi fitofarmaka. Sulitnya melakukan penelitian karena infrastruktur masih lemah.
Indah Yuning Prapti, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, Jawa Tengah, mengatakan di Tawangmangu merupakan satu-satunya klinik saintifikasi jamu yang ada di Indonesia.
science
| |
lebaran berkah
Informasi Libur Indowebmaker
tipsss
Bagaimana kita bisa mengelola kesendirian supaya lebih bermakna? Lakukan hal berikut :
1. Cari kesibukan dengan melakukan aktivitas positif
yang sangat Wawan sukai, misalnya dengan membaca,
menulis, olahraga, menyanyi? :-) Apapun kesukaan
Wawan. Dengan cara ini, kesendirian akan terasa lebih
menyenangkan!
2. Kedua, ingat-ingat kembali hal-hal yang menjadi
impian Wawan dan belum sempat dilakukan. Wawan bisa
membuka agenda-agenda pribadi, foto-foto jaman
dulu, buku-buku, dan lain sebagainya.
Percaya, cara ini akan menyadarkan Wawan akan
sempitnya waktu untuk mewujudkan segalanya.
Kalau sudah begini, bukankah kesendirian itu jadi
menyenangkan? ;-)
3. Ketiga, buat daftar sebanyak-banyaknya tentang
keinginan yang ingin Wawan wujudkan selagi masih
hidup. Mungkin dengan cara menuliskan kembali
'keinginan gila' saat Wawan masih kecil? Atau mimpi-
mimpi lain yang belum terlaksanakan?
Saat itu Wawan akan sadar, ternyata banyak sekali
hal yg memerlukan kesendirian utk mewujudkannya!
4. Dan yang terakhir.... Sebenarnya ini merupakan hal
*utama* dan yang pertama yang harus Wawan lakukan...
Mendekatlah kepada Yang Maha Mencinta diri Wawan.
Kesendirian ini akan semakin menyadarkan hakekat
keberadaan Wawan di dunia.
Semakin keyakinan ini kuat, maka akan semakin
kokoh kemampuan Wawan mengarungi kehidupan,
dengan segala situasinya.
Intinya, jangan biarkan Wawan terjebak dalam kesendirian
dengan suasana 'hati yang negatif', membiarkannya
berlarut-larut, hingga membuat Wawan putus asa.
Kalau Wawan mau membuka mata, kita sebenarnya tidak
pernah benar-benar sendiri. Ada orang lain di sekitar
kita.
Yang jelas, pasti selalu ada orang yang bisa Wawan
jadikan teman, dan ajak bicara!
Jika Wawan mau terbuka, dalam kesendirian Wawan bisa
merenungkan banyak hal. Dalam kesendirian Wawan bisa
menemukan kedewasaan, kebijaksanaan, ide brilian,
dan memaksimalkan potensi yang Wawan miliki.
Dalam kesendirian pula Wawan bisa mengungkap
kejujuran, yang bisa jadi terkalahkan oleh sombong dan
ego yang seringkali Wawan temukan di keramaian!
Tidak bisa dipungkiri, kesendirian bisa datang kapan
saja kepada setiap orang, termasuk kepada Wawan.
Nah, jika suatu saat atau bahkan saat ini Wawan sedang
dilanda 'kesepian' alias merasa 'sunyi sepi sendiri',
Wawan harus ingat, bahwa kesendirian tidak selamanya
mematikan!
Kelola-lah perasaan Wawan dengan baik, dan buatlah
kesendirian menjadi lebih bermakna. :-)
************** RESOURCE BOX ********************
Asian Brain Newsletter -Think & Succeed!
Kontribusi Anne Ahira & PT. Asian Brain untuk menggali
dan melejitkan potensi masyarakat Indonesia!
Jika tulisan-tulisan Ahira dirasakan bermanfaat
oleh Wawan, tolong sebarkan alamat situs ini:
=> http://www. AsianBrainNewsletter.com
Asian Brain - Untuk INDONESIA
****************************** *******************
1. Cari kesibukan dengan melakukan aktivitas positif
yang sangat Wawan sukai, misalnya dengan membaca,
menulis, olahraga, menyanyi? :-) Apapun kesukaan
Wawan. Dengan cara ini, kesendirian akan terasa lebih
menyenangkan!
2. Kedua, ingat-ingat kembali hal-hal yang menjadi
impian Wawan dan belum sempat dilakukan. Wawan bisa
membuka agenda-agenda pribadi, foto-foto jaman
dulu, buku-buku, dan lain sebagainya.
Percaya, cara ini akan menyadarkan Wawan akan
sempitnya waktu untuk mewujudkan segalanya.
Kalau sudah begini, bukankah kesendirian itu jadi
menyenangkan? ;-)
3. Ketiga, buat daftar sebanyak-banyaknya tentang
keinginan yang ingin Wawan wujudkan selagi masih
hidup. Mungkin dengan cara menuliskan kembali
'keinginan gila' saat Wawan masih kecil? Atau mimpi-
mimpi lain yang belum terlaksanakan?
Saat itu Wawan akan sadar, ternyata banyak sekali
hal yg memerlukan kesendirian utk mewujudkannya!
4. Dan yang terakhir.... Sebenarnya ini merupakan hal
*utama* dan yang pertama yang harus Wawan lakukan...
Mendekatlah kepada Yang Maha Mencinta diri Wawan.
Kesendirian ini akan semakin menyadarkan hakekat
keberadaan Wawan di dunia.
Semakin keyakinan ini kuat, maka akan semakin
kokoh kemampuan Wawan mengarungi kehidupan,
dengan segala situasinya.
Intinya, jangan biarkan Wawan terjebak dalam kesendirian
dengan suasana 'hati yang negatif', membiarkannya
berlarut-larut, hingga membuat Wawan putus asa.
Kalau Wawan mau membuka mata, kita sebenarnya tidak
pernah benar-benar sendiri. Ada orang lain di sekitar
kita.
Yang jelas, pasti selalu ada orang yang bisa Wawan
jadikan teman, dan ajak bicara!
Jika Wawan mau terbuka, dalam kesendirian Wawan bisa
merenungkan banyak hal. Dalam kesendirian Wawan bisa
menemukan kedewasaan, kebijaksanaan, ide brilian,
dan memaksimalkan potensi yang Wawan miliki.
Dalam kesendirian pula Wawan bisa mengungkap
kejujuran, yang bisa jadi terkalahkan oleh sombong dan
ego yang seringkali Wawan temukan di keramaian!
Tidak bisa dipungkiri, kesendirian bisa datang kapan
saja kepada setiap orang, termasuk kepada Wawan.
Nah, jika suatu saat atau bahkan saat ini Wawan sedang
dilanda 'kesepian' alias merasa 'sunyi sepi sendiri',
Wawan harus ingat, bahwa kesendirian tidak selamanya
mematikan!
Kelola-lah perasaan Wawan dengan baik, dan buatlah
kesendirian menjadi lebih bermakna. :-)
************** RESOURCE BOX ********************
Asian Brain Newsletter -Think & Succeed!
Kontribusi Anne Ahira & PT. Asian Brain untuk menggali
dan melejitkan potensi masyarakat Indonesia!
Jika tulisan-tulisan Ahira dirasakan bermanfaat
oleh Wawan, tolong sebarkan alamat situs ini:
=> http://www.
Asian Brain - Untuk INDONESIA
******************************
Selasa, 14 September 2010
jannah
Jauhkan Rumahmu Menjadi Nerakamu
Rumah yang barakah, mengantarkan penghuninya meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat
Oleh: Ust. Shalih Hasyim*
Hidayatullah.com--RUMAH dalam istilah bahasa Arab disebut ‘sakan’. Tempat yang menenangkan pikiran dan hati penghuninya. Tempat untuk membaringkan badan, dari kepenatan kehidupan. Tempat untuk mengurai kerumitan kehidupan yang dihadapi di luar. Tempat berlabuh secara lahir dan batin. Tempat untuk beristirahat, menyusun kekuatan baru. Bukan sebatas adress (alamat resmi) atau home (tempat tinggal atau tempat perlindungan).
Rumah merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman. Tempat menumpahkan sisi kepolosan dan kekanak-kanakan kita untuk bermain dengan lugu dan merdeka. Saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman. Saat kita merasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Saat kita menjadi bocah besar, berkumis. Di telaga kedalamannya kita menyedot energi spiritual dan ketajaman emosional. Tetapi, pada saat yang sama di sana kita menyiapkan pahlawan untuk memenuhi panggilan zamannya.
Seorang ideolog ormas Islam terbesar di dunia, Syaikh Said Hawa mengatakan: “Sesungguhnya zaman kita ini didominasi dan terhegemoni syahwat (kecintaan kepada hawa nafsu) dan syubhat (salah paham terhadap kebenaran), serta ghoflah (melalaikan misi kehidupan). Benteng terakhir untuk mempertahankan iman, ibadah, dan akhlak, adalah rumah dan masjid.”
Dari statemen yang bijak di atas dipahami bahwa rumah yang berkualitas memiliki sumbangan yang terbesar dalam mengantarkan penduduk dunia meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Sebaliknya, rumah yang bermasalah akan melahirkan prahara kehidupan. Rumah yang semula menjadi tumpuhan harapan kebahagiaan penghuninya, berubah menjadi sumber malapetaka, ketika ia dibangun dari sumber yang tidak halal. Misalnya; rumah didirikan berasal dari hasil korupsi, kolusi, dan nepoteisme (KKN).
Rumah menjadi lubang kehancuran reputasi pemiliknya, ketika rumah itu hanya menonjolkan asesoris dan atribut kemegahan, tetapi tidak ada ruang untuk membangun sandaran spiritual, tempat untuk berbagi (sharing), tempat untuk saling memberi dan menerima. Bukan tempat untuk mengambil, menuntut, pantang berkurban. Bahkan kalau perlu mengurbankan kepentingan bangsa dan negara untuk memperkaya diri dan mempertahankan status quo. Dalam keadaan demikan, rumah yang sejatinya menjadi taman surga, berubah menjadi lubang neraka. Sehingga tampak sunyi, sempit, dan senyap, bagaikan kuburan. Rumahmu laksana nerakamu.
Apalah arti bangunan yang menjulang tinggi, tata letak yang indah dan strategis, taman yang tertata rapi, halaman yang luas, panorama lampu yang terang, pohon yang rindang, jika pemiliknya berjiwa kerdil, mementingkan diri sendiri (ananiyah, egois). Sehingga pintu pikiran, hati pemiliknya, serta pintu rumahnya tidak ada ruang yang terbuka untuk bersinergi dengan tetangga dan kerabat. Jika orang-orang yang terdekat di rumah itu tidak mencintainya, mustahil bisa membangun komunikasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
َمَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabut (29) : 41).
Dalam koran Suara Merdeka (edisi Minggu Kliwon, 28 Maret 2010), rubrik Parodi (lakon yang mengandung sindiran) oleh Prie GS, menjelaskan prahara rumah. Rumah yang semula tempat kembali, dikosongkan karena mengalami disfungsi. Para kuli tinta mengerumuninya bukan untuk mengaguminya, tetapi untuk dijadikan alat bukti kejahatan yang dilakukan oleh pemiliknya.
Orang-orang berbondong-bondong mendatanginya bukan untuk memberikan acungan jempol, memujinya, tetapi mencerca dan mengutuknya. Rumah yang seharusnya menjadi sumber barakah (tambahan kebaikan) bagi siapa saja yang pernah menghampirinya, berubah menjadi laknat (dijauhkan dari kebaikan). Rumah yang asri secara lahiriyah, tetapi sempit secara non-fisik. Setiap orang yang melihatnya mencibirkannya. Khalayak ramai mendatanginya bukan untuk bertamu, tetapi menggerutu.
Seluruh keindahan bangunannya, air mancur, kebun bunga, megahnya bangunan, luasnya halaman, bertingkat, bukan menjadi contoh dan gambaran rumah yang ideal. Tetapi rumah itu akhirnya menjadi rumah kutukan, rumah cibiran, rumah cercaan, rumah yang mengalami krisis makna.
Oleh: Ust. Shalih Hasyim*
Rumah merupakan padang jiwa yang luas dan nyaman. Tempat menumpahkan sisi kepolosan dan kekanak-kanakan kita untuk bermain dengan lugu dan merdeka. Saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman. Saat kita merasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Saat kita menjadi bocah besar, berkumis. Di telaga kedalamannya kita menyedot energi spiritual dan ketajaman emosional. Tetapi, pada saat yang sama di sana kita menyiapkan pahlawan untuk memenuhi panggilan zamannya.
Seorang ideolog ormas Islam terbesar di dunia, Syaikh Said Hawa mengatakan: “Sesungguhnya zaman kita ini didominasi dan terhegemoni syahwat (kecintaan kepada hawa nafsu) dan syubhat (salah paham terhadap kebenaran), serta ghoflah (melalaikan misi kehidupan). Benteng terakhir untuk mempertahankan iman, ibadah, dan akhlak, adalah rumah dan masjid.”
Dari statemen yang bijak di atas dipahami bahwa rumah yang berkualitas memiliki sumbangan yang terbesar dalam mengantarkan penduduk dunia meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Sebaliknya, rumah yang bermasalah akan melahirkan prahara kehidupan. Rumah yang semula menjadi tumpuhan harapan kebahagiaan penghuninya, berubah menjadi sumber malapetaka, ketika ia dibangun dari sumber yang tidak halal. Misalnya; rumah didirikan berasal dari hasil korupsi, kolusi, dan nepoteisme (KKN).
Rumah menjadi lubang kehancuran reputasi pemiliknya, ketika rumah itu hanya menonjolkan asesoris dan atribut kemegahan, tetapi tidak ada ruang untuk membangun sandaran spiritual, tempat untuk berbagi (sharing), tempat untuk saling memberi dan menerima. Bukan tempat untuk mengambil, menuntut, pantang berkurban. Bahkan kalau perlu mengurbankan kepentingan bangsa dan negara untuk memperkaya diri dan mempertahankan status quo. Dalam keadaan demikan, rumah yang sejatinya menjadi taman surga, berubah menjadi lubang neraka. Sehingga tampak sunyi, sempit, dan senyap, bagaikan kuburan. Rumahmu laksana nerakamu.
Apalah arti bangunan yang menjulang tinggi, tata letak yang indah dan strategis, taman yang tertata rapi, halaman yang luas, panorama lampu yang terang, pohon yang rindang, jika pemiliknya berjiwa kerdil, mementingkan diri sendiri (ananiyah, egois). Sehingga pintu pikiran, hati pemiliknya, serta pintu rumahnya tidak ada ruang yang terbuka untuk bersinergi dengan tetangga dan kerabat. Jika orang-orang yang terdekat di rumah itu tidak mencintainya, mustahil bisa membangun komunikasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
َمَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabut (29) : 41).
Dalam koran Suara Merdeka (edisi Minggu Kliwon, 28 Maret 2010), rubrik Parodi (lakon yang mengandung sindiran) oleh Prie GS, menjelaskan prahara rumah. Rumah yang semula tempat kembali, dikosongkan karena mengalami disfungsi. Para kuli tinta mengerumuninya bukan untuk mengaguminya, tetapi untuk dijadikan alat bukti kejahatan yang dilakukan oleh pemiliknya.
Orang-orang berbondong-bondong mendatanginya bukan untuk memberikan acungan jempol, memujinya, tetapi mencerca dan mengutuknya. Rumah yang seharusnya menjadi sumber barakah (tambahan kebaikan) bagi siapa saja yang pernah menghampirinya, berubah menjadi laknat (dijauhkan dari kebaikan). Rumah yang asri secara lahiriyah, tetapi sempit secara non-fisik. Setiap orang yang melihatnya mencibirkannya. Khalayak ramai mendatanginya bukan untuk bertamu, tetapi menggerutu.
Seluruh keindahan bangunannya, air mancur, kebun bunga, megahnya bangunan, luasnya halaman, bertingkat, bukan menjadi contoh dan gambaran rumah yang ideal. Tetapi rumah itu akhirnya menjadi rumah kutukan, rumah cibiran, rumah cercaan, rumah yang mengalami krisis makna.
naskhan amal
Jangan Pernah Merasa Kenyang Nasehat
Umat Nabi Nuh yang sengaja menutup telinga, agar tidak mendengarkan nasihat. Sehingga saluran petunjuk tersumbatOleh: Shalih Hasyim*
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Adz Dzariyat (51) : 55).
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah (94) : 5-6).
Fluktuasi (pasang surut) kehidupan ini dijadikan oleh Allah sebagai wasilah tarbiyah (sarana pendidikan) untuk menguji tingkat (level, mustawa) stabilitas psikologis seseorang.
“Kami akan menguji kamu dengan kebaikan dan keburukan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya ( 21) : 35).
Apakah kita membusungkan dada ketika memperoleh kenikmatan, dan tahan ujikah kita ketika musibah yang tidak kita undang itu datang menerpa ? Memang jiwa manusia itu sangat labil, lemah dan mudah goyah. Seharusnya kelapangan dan kesempitan dipandang dengan spirit yang sama, karena keduanya adalah ujian. Bukan anugrah dan kehormatan.
“Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. Al Ma’arij ( 70) : 19-20).
Ia tidak memahami karaktieristik kehidupan di dunia ini. Kebanyakan manusia selalu berfikir subyektif dan jangka pendek. Memandang dunia secara lahiriyah. Tidak pandai mengambil pelajaran dibalik peristiwa. Serta mempersepsikan bahwa peristiwa di dunia ini dengan kaca mata hitam dan putih. Ia tidak menyadari bahwa dunia ini mengikuti kekuatan fitri, selalu berubah. Datang dan pergi, timbul dan tenggelam, naik dan turun. Justru yang permanen adalah perubahan itu sendiri.
Sumber penyebab timbulnya destabilisasi/kegoncangan jiwa manusia dalam prespektif al Quran adalah adanya keyakinan totalitas kehidupan dan apa yang dimilikinya adalah berpangkal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya tergoyahkan/tergoda oleh kegemerlapan dunia (hubbud dunya) dan takatsur (mengejar posisi, menumpuk-numpuk dunia, berebut massa).
Dari sinilah kegoncangan psikologis berawal. Kegoncangan jiwa melahirkan sikap destruktif (merusak). Melemahkan pikiran dan mengeruhkan kebersihan hati, dan menumpulkan kecedasan emosi dan kekuatan pisik. Ia tidak menyadari nikmat dan bencana itu bersifat nisbi (relatif). Untuk menstabilkan kembali psikologis seseorang oleh goncangan siklus kehidupan, peringatan (taushiyah) memegang peranan penting.
Agar manusia memahami hakikat relatifitas kehidupan di dunia, dan keabadian di akhirat. Begitu urgensinya peringatan, maka al -Quran disebut sebagai mau’izhah dan zikr serta taushiyah, karena keseluruhan isinya adalah peringatan. Nabi Muhammad sendiri adalah sebagai pemberi peringatan (mudzakkir).
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS. Al Ghosyiyah (88) : 21).
Hal ini mengisyaratkan bahwa salah satu misi mulia agama adalah memberi peringatan kepada ummat manusia (la’allakum tazakkarun).
“Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha (20) : 3).
Kualitas komitmen keislaman seseorang identik dengan tingkat responsibilitasnya (tajawub) dengan nasihat dan peringatan. Agama adalah nasihat. Untuk Allah SWT Rasul-Nya para pemimpin dan masyarakat bawah. Semuanya dalam posisi tunduk di bawah komando agama yang patut menasihati mereka.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman [sempurna] ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal (8) : 2).
“(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka.” ( QS. Al Hajj (22) : 35).
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr (103) : 3).
“Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al Balad (90) : 17)
Mukmin sejati tidak akan pernah merasa kenyang dengan nasihat, peringatan. Umar bin Khathab mengatakan : Orang yang paling aku cintai adalah orang yang menunjukkan aibku. Kata ahli hikmah : Teman sejati bukanlah orang yang selalu membenarkanmu, tetapi meluruskanmu jika menemukan penyimpanganmu. Orang yang diam (membiarkan) keburukan pada lingkungan sosialnya adalah syetan yang bisu, syaithanun ahras (Al Hadits).
Kualitas seseorang tidak ditentukan oleh seringnya berbicara, berdiplomasi dan berorasi (katsratur riwayah), tetapi banyaknya mendengar (katsratul istima’) dan kualitas pelayanannya kepada yang dipimpin (katsratur ri’ayah). Sekalipun seseorang buta, tetapi fungsi pendengarannya dimaksimalkan, banyak dari kalangan mereka yang menjadi ulama, Dr. Prof. Ahli sastra Al Mutanabbi, Syaikh Al ‘Allamah Abdullah bin Baz, Abdul Hamid Kisyk, dll. Sedangkan tidak ada ilmuan, ulama yang tuli.
“ Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[mereka mendengarkan ajaran Al Quran dan yang lain, tetapi yang diikutinya adalah Al Quranapa]. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar (39) : 17-18).
Salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi seorang calon pemimpin masa depan adalah terbiasa dikritik, kata Prof. Dr. Baharuddin Lopa. Orang yang baik adalah orang yang selalu membuka pintu rumah dan pintu hatinya dari masukan dan nasihat orang lain. Nasihat tidak hanya berfungsi sebagai pengendali diri, tetapi berperan dalam membangun harapan, menguatkan motivasi, tekat (azam), melahirkan optimisme. Nasihat adalah modin (mobilisator dan dinamisator) kehidupan. Peringatan akan merubah jiwa yang mengalami futur (stagnasi), kegoncangan, menjadi dinamis, kreatif dan produktif.
Rabu, 08 September 2010
Jumat, 03 September 2010
art
Detil Indah Masjid Wazir Khan, Lahore
Masjid Wazir Khan dibuat selama 7 tahun dan dimulai sekitar 1634 – 1635 ini didirikan saat pemerintahan dari Kekaisaran Mughal yang saat itu sedang dipimpin Shah Jehan. Pendirinya adalah Shaikh Ilm-Ud-din Ansari, yang kemudian diangkat sebagai gubenur di Lahore dan dikenal sebagai Nawab Wazir Khan (Wazir berarti menteri dalam bahasa Urdu). Nama tersebut akhirnya diabadikan pada masjid yang berada di Delhi Gate atau daerah tertua di Lahore.
Pada zaman Shah Jehan, masjid ini digunakan untuk salat Jum'at para keluarga kerajaan beserta pengiring yang berjumlah besar. Mereka melewati jalan-jalan kota sebelum sampai ke masjid yang penuh dengan detil ornamen ini. Letak masjid tak jauh dari Kashmiri Bazar, sebuah pasar tradisional sebelah masjid yang dipenuhi barang-barang kerajinan, buah, makanan, dan sebagainya. Setelah Masjid Badshahi selesai dibangun, rombongan ini mengalihkan sasarannya ke sana.
Masjid tua ini sangat kaya dengan detil yang rumit. Material yang digunakan dalam konstruksi terbuat dari jenis ubin berukuran kecil seperti batu bata yang biasa digunakan dalam Kekaisaran Mughal. Dindingnya dilapisi plester (acuan batu kapur) dengan tekstur yang sama halus dan senada dengan warna marmer merah khas India. Warna merah berpadu bunga dan sulur pola tradisional yang ditatah dengan teknik faience (teknik khusus untuk menghias tembikar yang di Pakistan lebih dikenal dengan sebutan kashi) pada beberapa sudut.
Sebelah kanan dan kiri gedung utama terdapat dua menara persegi delapan setinggi 100 kaki yang menunjukkan desain khas arsitektur Mughal. Pada bagian Utara dan Selatan terdapat halaman berbentuk segi delapan dengan barisan bilik, dan bagian tengahnya terdapat beberapa ruang kembar pada masing-masing sudutnya. Kemungkinan kamar-kamar ini disediakan untuk para penjaga masjid. Pada bagian Utara dan Selatan halaman utama masjid terdapat masing-masing 11 kamar, yang kemungkinan awalnya disediakan untuk perpustakaan dan tempat para jemaah masjid untuk mendalami Islam.
Di halaman dalam masjid terdapat makam dari Syed Muhammad Ishaq yang dikenal sebagai Miran Badshah, seorang ulama dari Iran yang menetap di Lahore pada masa Dinasti Tughluq. Sedangkan pada paviliun di sebelah Selatan terdapat air mancur yang airnya memenuhi kebutuhan tangki air di wilayah ini.
Dekorasi bagian dalam masjid merupakan hiasan Persian-Mughal yang berbentuk geometris dengan perpaduan desain floral tradisional dan kaligrafi yang terlihat kaya warna, penuh dengan detail-detail rumit namun juga terlihat sangat eksotis dan Indah. Pembuatan hiasan ini dipimpin seniman dari Persia yang khusus datang ke India atas permintaan Shah Jehan, sehingga tak heran jika pengaruh Persia sangat kuat pada desain-desainnya. (esthi)
(Wisata Religi ini merupakan kerjasama dengan www.alifmagz.com)
Langganan:
Komentar (Atom)
